Pegawai Tak Lolos TWK KPK Diduga Kuat Distigma Taliban

Komnas HAM baru saja mengumumkan hasil kajian dari laporan yang dilakukan oleh Novel Badswesdan dkk terkait polemic tes wawasan kebangsaan atau TWK.

Komnas HAM menemukan temuan pegawai KPK yang tidak lolos TWK diduga kuat karena stigma taliban.

Komnas HAM menyampaikan telah memeriksa sejumlah pihak terkait dan ahli terkait dalam proses pengalihan status pegawai KPK menjadi ASN.

Komnas HAM juga membandingkan dokumen-dokumen dan notulensi rapat dengan keterangan saksi yang terkait proses pengalihan status pegawai tersebut.

“Berdasarkan serangkaian hasil penyelidikan tim pemantauan dan penyelidikan Komnas HAM RI merumuskan sejumlah substansi fakta dan temuan yang dapat disimpulkan, pertama proses alih status pegawai KPK menjadi ASN melalui TWK hingga pelantikan pada 1 Juni 2021 diduga kuat sebagai bentuk penyingkiran terhadap pegawai tertentu dengan latar belakang tertentu khususnya mereka yang terstigma atau terlabel taliban,” kata Komisioner Komnas HAM M Choirul Anam, dalam konferensi pers, Senin 16 Agustus 2021.

Kedua, Komnas HAM juga menyimpulkan pelabelan atau sitgmatisasi taliban kepada pegawai KPK yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya baik faktual maupun hukum adalah bentuk pelanggaran HAM.

“Pelabelan taliban di dalam internal KPK sengaja dikembangkan dan dilekatkan kepada pegawai KPK dengan latar belakang tertentu sebagai bagian dari identitas maupun praktek tertentu, nyatanya stigma atau label tersebut sangat erat kaitannya dengan aktivitas kerja profesional pegawai KPK. Tidak hanya itu label ini juga melekat pada pegawai KPK yang tidak bisa dikendalikan, padahal karakter kelembagaan KPK atau internal KPK menuju pada kode etik lembaga justru memberikan ruang untuk bersikap kritis dalam melakukan kontrol internal maupun kerja kerja penegakkan hukum dalam pemberantasan tindak pidana korupsi,” ujarnya.

Ketiga Komnas HAM menyimpulkan telah terjadi pembebas tugasan KPK yang mengarah pada pemutusan hubungan kerja (PHK) melalui alih status asesmen TWK.

“Penggunaan stigma dan label taliban menjadi basis dasar pemutusan hubungan kerja melalui proses alih status pegawai KPK menjadi ASN nyata terjadi,” ujar Anam.

Anam mengatakan, hal ini terlihat dari perubahan mandat dan substansi alih status dari pengangkatan menjadi pengalihan hingga akhirnya disepakati jadi assesmen atau seleksi dalam dinamika diskursus pembentukan Perkom KPK nomor 1 / 2021 yang menjadi pedoman tata cara pengalihan status pegawai KPK menjadi ASN.

“Tujuannya menyingkirkan atau menyaring pegawai dengan label dan stigma dimaksud mulai dari proses perencanaan membentuk Perkom, kerjasama dengan BKN, pembiayaan, menentukan metode pihak yang terlibat, asesor asesement hingga penyusunan jadwal pelaksanaan,” ujarnya.

Kemudian Komnas HAM juga menyoroti tentang penyelenggaraan asesment yang tidak transparan, diskriminatif, dan terselubung, serta dominasi pihak tertentu dalam penetapan hasil TMS dan MS hingga pasca penyelenggaraan yang juga tidak terbuka.

“Pengunguman hasil yang menimbulkan ketidakpastian pembebasan tugasan pegawai yang TMS hingga pemilihan waktu pelantikan 1 Juni yang merupakan hari lahir Pancasila, padahal mekanisme alih status terhadap pegawai KPK sebagai konsekuensi dari perubahan UU KPK nomor 19/2019 cukup melalui administratif adjustment,” katanya.

“Sehingga patut diduga proses tersebut dilakukan secara sewenang-wenang, abuse of power, tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan, bahkan terdapat unsur kesengajaan yang terencana dalam penyelenggaraannya maupun pasca penyelenggaraan,” katanya.

“Oleh karena kesimpulan faktual seperti itu maka terdapat berbagai pelanggaran HAM,” ungkapnya.

Sebelumnya, Komnas HAM mengungumkan hasil kajian dari laporan yang dilakukan Novel Baswedan dkk terkait polemik tes wawasan kebangsaan (TWK) pegawai KPK. Hasilnya Komnas HAM menyebut proses alih status pegawai KPK dinyatakan melanggar 11 hak asasi.

“Setelah Komnas HAM melakukan pemeriksaan, pendalaman dan analisis ternyata Komnas HAM menemukan keyakinan bahwa suatu yang sepele karena dari perspektif pelanggaran hak asasi manusianya Komnas HAM menemukan ada 11 bentuk pelanggaran HAM dalam kasus ini baik ditinjau dari sisi kebijakan, ditinjau dari tindakan atau perlakuan termasuk juga dari ucapan dalam bentuk pernyataan maupun pernyataan,” kata Wakil Ketua Internal Komnas HAM RI Munafrizal Manan, dalam konferensi pers, Senin 16 Agustus 2021.

Artikel yang Direkomendasikan